Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Hanya Pada-Mu

Gambar
Jam 20.18 WIB, bel rumah berbunyi. Aku terhenyak dari lamunan panjangku di depan TV. Dengan tergopoh-gopoh, pembantuku membuka pintu. Malam ini aku hanya terduduk tanpa pikiran pasti. Inilah aku dengan segala kemewahan yang aku punya. Hidup tiada berkurang harta. “Mas Irfan, mobil baru Ibu datang,” dengan hati-hati Bi Linda, pembantuku, memberitahu. Aku hanya mengucap terima kasih dan membiarkannya pergi. Suatu hal yang sangat amat wajar. Ibuku memang sering berbelanja hal yang tak ada gunanya sama sekali. Ini adalah mobil ke empat yang ibu beli setelah 3 mobil premium yang lain.             Batinku berteriak. Ingin rasanya membuang semua dari rumah ini. Tak bisakah sehari saja Ibu tak membeli barang-barang seperti ini? Ibu dengan segala kebiasaannya. Ibu yang selalu pulang pagi. Yang kadang pulang dengan bau alcohol yang menyengat. Yang kadang pulang dengan ‘teman’ laki-lakinya. Ayah pun tak bisa banyak berbuat. Beliau ter...

Masih Menunggu'mu'

Gambar
Terima kasih Allahku telah memberiku waktu untuk menunggu. Ya, meski terkadang itu membosankan, Kau bahkan memberiku waktu yang teramat indah dalam panungguan, Kau menghadiahiku begitu banyak pengalaman yang tak dapat terlukiskan. Allahku,, aku selalu berusaha untuk menghadirkanmu dalam segumpal darah bercampur daging yang sering disebut hati. Betapa indah sapaanMu dalam munajat cinta yang mungkin terkadang aku lebih terbuai oleh sapa lembut para perangkat busa empuk ukuran satu orang dewasa. Menimbulkan penyesalan tiada tara ketika telah tersadar dari kelalaian malam. Allahku,, maafkan aku selalu bertanya siapakah ‘dia’ku? Aku yang bahkan terkadang masih kekanak-kanakan, aku yang terkadang masih dihinggapi rasa egois, aku yang terkadang masih lalai menyapaMu. Betapa beraninya aku dengan segala keinginanku meminta kepadaMu. Tapi Allahku, aku sangat mempercayaiMu. Mempercayakan cerita indah dan sedih kepadaMu. Kau tak pernah berhianat, tapi aku sering kali berpaling dariMu ...

Fitrah Cinta

Gambar
Mencintai dan dicintai adalah fitrah, karena sesungguhnya hakikat cinta itu sendiri adalah anugrah. Maka, bagaimana orang yang tega menodai cinta dengan hal-hal semu tetap bisa mengatakan bahwa ia tengah "mencinta"? Padahal ketika sesekali ia terjatuh ia pun menyalahkan cinta? Ah,, cinta tak sepicik itu. Jika ia benar-benar cinta, tak ada lagi pikiran memaksa untuk bisa memiliki hatinya. Ia dengan segala kerelaan akan menerima keputusan'nya' yang tengah ia perjuangkan. Meski ia berkata tengah dalam masa "bercinta" dengan pujaan hatinya tanpa 'ikatan' yang benar, bisakah ia menjamin bahwa di hatinya hanya ada 'ia' seorang? Ah,, cinta tak serendah itu. Ayo bangkit kawan, dari keterpurukan fatamorgana antara cinta yang mungkin berasal dari nafsu diri. Dari kefanaan melayarkan diri menggapai cinta yang berarti. Dari kemurkaan menuju keridhoan. dari kemaksiatan menuju keabadian. Kawan, sesungguhnya Tuhan amat sangat mencintai kita meski kita...