Hanya Pada-Mu



Jam 20.18 WIB, bel rumah berbunyi. Aku terhenyak dari lamunan panjangku di depan TV. Dengan tergopoh-gopoh, pembantuku membuka pintu. Malam ini aku hanya terduduk tanpa pikiran pasti. Inilah aku dengan segala kemewahan yang aku punya. Hidup tiada berkurang harta.
“Mas Irfan, mobil baru Ibu datang,” dengan hati-hati Bi Linda, pembantuku, memberitahu. Aku hanya mengucap terima kasih dan membiarkannya pergi. Suatu hal yang sangat amat wajar. Ibuku memang sering berbelanja hal yang tak ada gunanya sama sekali. Ini adalah mobil ke empat yang ibu beli setelah 3 mobil premium yang lain.
            Batinku berteriak. Ingin rasanya membuang semua dari rumah ini. Tak bisakah sehari saja Ibu tak membeli barang-barang seperti ini? Ibu dengan segala kebiasaannya. Ibu yang selalu pulang pagi. Yang kadang pulang dengan bau alcohol yang menyengat. Yang kadang pulang dengan ‘teman’ laki-lakinya. Ayah pun tak bisa banyak berbuat. Beliau terlalu sibuk dengan segala pekerjaan, hingga waktunya tersita hanya untuk bisnis, dan bisnis. Namun ayah masih bisa peduli dengan orang yang membutuhkan.
            Ibuku memang cantik. Wajahnya terlihat lebih muda dari umurnya, karena salon selalu menjadi tempat singgahnya. Bahkan kelihatan tak berbeda jauh umurnya dengan adikku. Namun kenapa hatinya tak seelok wajahnya? Ibu tak akan pernah rela dengan uang yang ayah sumbangkan untuk masjid, panti asuhan, bahkan sekolah-sekolah yang membutuhkan. Ayah pun selalu berbagi dengan cara sembunyi, tak suka terlihat orang.
            Pintu utama dibuka. Angin malam membuyarkan lamunanku.  Ayah baru pulang dari dinas di luar kota langsung menghampiriku.
“Irfan, mobil ibu?” Ayah hanya memastikan. Aku pun mengangguk. Ku paksa bibirku untuk tersenyum.  Tanpa banyak bicara, ayah langsung masuk kamar. Istirahat. Ibu belum pulang. Kata Bi Linda, ibu sejak ba’da magrib berangkat ke pusat perbelanjaan di tengah kota dengan Aulia, adikku satu-satunya. Begitulah ibuku, setiap mendengar ada brand terkenal yang mengeluarkan barang, tak satu pun terlewat. Hingga rumahku seperti museum penuh dengan barang mahal.
 Lelah, aku terduduk dalam lamunan pasca emosi. Seluruh raga dan jiwa tak mampu ku tata. Bait demi bait kehidupan telah ku lalui. Kenapa kisah ini harus menghias sepercik dari kehidupanku. Rumah mewah, mobil mewah, harta berlimpah. Mereka telah menyilaukan batin Ibu. Betapakah diri akan terhempas dalam renungan saja? Aku tak sanggup untuk banyak berkata. Aku terlelap ke alam mimpi.


***

            Matahari telah terbit di ufuk timur dengan biasnya yang indah. Bentuk kuasa Sang Maha Kuasa. Rumahku telah berbenah. Aku bersiap berangkat ke asrama. Waktu liburan belum habis, namun ku sudah terlampau muak melihat kebiasaan ibuku. Berfoya-foya dengan uang yang ayah berikan!
            Setelah berpamitan dengan ayah, aku berjalan kaki menuju halte yang terletak tak jauh dari rumahku.
“Irfan!” Seseorang memanggil namaku dari belakang. Aku pun menoleh. Teman SMA ku dulu, Alifa.
“Masya Allah Alifa…, gimana kabarnya?”
“Alhamdulillah, baik, Fan, kamu sekarang banyak berubah ya, jalan kaki ya Fan? Mana mobil mewah mu?”
            Aku hanya tersenyum. Angin berhembus lembut membawa cerita masa lalu. Aku dan Alifa hanyut dalam cerita canda tawa di atas bangku halte. Cukup menyenangkan. Alifa yang mengajariku arti kesederhanaan. Dia juga anak orang kaya. Namun amat sederhana. Dialah yang membuka keegoisan hatiku kala hatiku masih tertutup oleh kesombongan. Aku yang selalu pamer dengan segala kekayaan yang aku miliki. Dia pula yang mengajariku berbagi, meskipun awalnya aku sangat menyepelekan dia. Dia tak banyak bicara, namun perilakunya mengajariku banyak kebaikan.  
            12 menit kemudian, bisku pun datang. Aku pun mohon pamit pada Alifa. Ia menyunggingkan senyuman. Pipinya memerah terkena terpaan mentari pagi. Kerudung yang ia gunakan pun berkibar melambai seakan menyapaku. Ku lambaikan tanganku kala roda bis mulai berputar.
            Aku tak mendapat tempat duduk. Aku pun berdiri di tengah bis. Senyuman Alifa menghampiri fikirku. Kerudungnya yang berkibar, baju yang sopan dan sederhana. Ah, mengapa kau harus hadir dalam lamunku. Aku harus segera mengusir bayangnya. Aku pun menyalakan Surat Al-Baqoroh lewat handphone seraya mendengarkannya lewat handset. Tak beberapa lama setelah itu, aku mendapat tempat duduk di belakang.
            Tak terasa 8 jam sudah bis ku melaju. Aku turun. Aku jalan menuju masjid tak jauh dari halte tempat aku turun. Aku pun mengambil air wudlu dan menunaikan salat Ashar. Aku terpekur di dalam masjid ini dan terduduk lama.
            Aku pasrahkan segala urusan kepadaMu Ya Rabb. Engkaulah Sang Maha Segala. Hanya padaMu kami memohon, Hanya padaMu kami meminta pertolongan. Seluruh hati terpaut padaMu. Seluruh urusan Engkau yang tentukan. Tunjukilah hamba dan keluarga hamba jalan yang lurus, jalan penuh dengan nurMu, dan jalan yang Engkau ridhoi.

by: Fathma Zahara Sholeha




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fitrah Cinta

Logo atau Lambang Fathimah Az-Zahra

Semangat nak! belajar itu bertahap. PKL diary