Fitrah Cinta

Mencintai dan dicintai adalah fitrah, karena sesungguhnya hakikat cinta itu sendiri adalah anugrah. Maka, bagaimana orang yang tega menodai cinta dengan hal-hal semu tetap bisa mengatakan bahwa ia tengah "mencinta"? Padahal ketika sesekali ia terjatuh ia pun menyalahkan cinta?

Ah,, cinta tak sepicik itu. Jika ia benar-benar cinta, tak ada lagi pikiran memaksa untuk bisa memiliki hatinya. Ia dengan segala kerelaan akan menerima keputusan'nya' yang tengah ia perjuangkan. Meski ia berkata tengah dalam masa "bercinta" dengan pujaan hatinya tanpa 'ikatan' yang benar, bisakah ia menjamin bahwa di hatinya hanya ada 'ia' seorang?

Ah,, cinta tak serendah itu. Ayo bangkit kawan, dari keterpurukan fatamorgana antara cinta yang mungkin berasal dari nafsu diri. Dari kefanaan melayarkan diri menggapai cinta yang berarti. Dari kemurkaan menuju keridhoan. dari kemaksiatan menuju keabadian.

Kawan, sesungguhnya Tuhan amat sangat mencintai kita meski kita telah berkali-kali mengacuhkanNya. Apa Tuhan meminta kita untuk membelikan mobil? Perhiasan? Rumah? Tidak kawan, Ia dengan penuh kasih sayang telah mencintai kita bahkan tanpa mengharapkan harta-harta itu. Bahkan ia masih memberikan sekian banyak waktu meski hanya terpakai untuk menjauhiNya.

Ya, aku pun masih jauh dari kata sempurna. Jauhh dan teramat jauh. Bahkan untuk sekedar mengendalikan diri saja aku selalu meminta bantuanNya.

Mari sama-sama belajar untuk menggapai cintaNya kawan. Sebenar-benar cinta yang tersebut sebagai cinta hakiki. Sebaik-baik cinta yang ada di luasan langit dan muka bumi.

Malang, 4 April 2015
A-Mey Zahara

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tiket Kereta Api "Go Show" dan Kereta Gajayana

Memperbanyak Thawaf Sunnah