ARTI SAPA MENDUNG SORE

Sore yang mendung. Langkah kaki yang menderu2 menerjang angin memburu waktu dari setiap penuntut ilmu. Seorang perempuan berjilbab krem memasuki salah satu kelas di gedung B untuk mengajar dan belajar di situ. Tak ada yang istimewa saat pembacaan absen untuk mahasiswa, ia berlalu begitu saja.

Masuk pada kata2 pertama, sang pengajar itu bertanya tentang keinginan mahasiswinya. Keinginan berwujud cita dan asa. Apa yang kalian inginkan? Ada yg sudah punya target hidup? Dan lain sebagainya. Semua mahasiswi menggeleng. Sang pengajar trsebut meminta seluruh mahasiswi untuk pengeluarkan pena dan buku tulisnya.

"Silahkan sekarang juga tulis keinginan dan cita2 kalian masing2 di kertas tsb, minimal 10 poin,"
Para mahasiswi dengan sigap menuliskan keinginannya. Bermacam2. Sang pengajar duduk diam d kursinya, sembari membuka buku absen dan menandatanganinya.

Beberapa menit berlalu, tibalah waktunya para mahasiswi mengungkapkan keinginannya itu di depan kelas, "Sekarang, silahkan mendemonstrasikan keinginan kalian di depan kelas ini, boleh hanya satu atau dua poin saja, atau seluruhnya," ujar sang pengajar dengan senyum ramahnya. Untuk giliran pertama, sang pengajar meminta ketua kelas untuk maju ke depan.

Dengan senyum manisnya, ketua kelas maju ke depan, membuka buku tulis dan mengucap salam. Detik demi detik berlalu, namun ia tak kunjung membacakan keinginannya, ada apa gerangan? Air mata mulai tampak di pipinya. "Santai dek, pelan2 saja membacanya," kata sang pengajar. Ia pun mulai buka suara.

Seluruh mahasiswi di kelas itu terdiam. "Ustadzah," itu kata pertama yg muncul dari mahasiswi sholehah tsb, ia pun menitikkan air mata, hingga berulang kali. "Saya ingin membahagiakan kedua orang tua, menjadi hafidzoh. Saya tau itu sulit, karena bahkan ngaji saya belum lancar. Saya masih masuk bengkel Al-Qur'an untuk mentashih bacaan saya yg sama sekali masih baru belajar, ustadzah." Ujarnya sambil sesenggukan. Seluruh mahasiswi mulai ikut menitikkan air matanya. Bagaimana seorang yg bacaan Al-Qur'annya belum lancar, bahkan baru belajar, memiliki keinginan kuat untuk menjadi seorang hafidzah? Sedangkan kita yg sudah lancar membaca, apa kabar?

"Saya ingin membuat orang tua bangga..." kata2nya terputus. Ia sesenggukan, menangis lagi. Sang pengajar membelai pundak anak tersebut, mengharu. Sungguh, suasana menjadi begitu haru. "Insya Allah saya ingin kuliah di Oxford dan menjadi Dubes di Korea..." mahasiswi tersebut masih dengan usahanya berbicara diiringi sesenggukan tangisnya. "Saya ingin menmbiayai sekolah adik saya, saya ingin mendapatkan suami sholeh yg biasa menuntun ke surga, ustadzah," dengan terbata2, ia berhasil menyelesaikan kalimat demi kalimatnya. Seluruh mahasiswi dan sang pengajar memgamini keninginan sang ketua kelas. Ia pun dipersilahkan duduk kembali.

Dilanjutkan lagi dengan bergantian maju satu per satu. Hampir semua keinginan dari anak2 tersebut adalah 'membahagiakan orang tua, bagaimana pun caranya'. Dan seluruh kelas mengharu biru dengan ketulusan hatinya untuk mewujudkan cita2nya, dan cita2 kedua orang tua mereka. Mereka saling mengamini doa dan keinginan masing2.

Tibalah saatnya waktu mengakhiri kelas tersebut. Begitu keluar kelas, sang pengajar disambut oleh hujan deras, seakan bumi merasakan keharuan yg terjadi di salah satu pojok gedung B, kelas para mahasiswi shalihah, insya Allah. Allahu a'lam. Allahumma sahhil umuurohunna fiddin waddunya wal akhiroh, aamiin.

Malang, 24 Feb 2017
Di salah satu sudut kampus

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tiket Kereta Api "Go Show" dan Kereta Gajayana

Fitrah Cinta

Memperbanyak Thawaf Sunnah