KAJIAN AL-HIKAM (Hikmah ke-16)
KAJIAN AL-HIKAM
USTADZ
FATHURRAHMAN HAFIDZAHULLAH
Pengembangan SDM 5 Okt 2018
Hikmah yang ke-16
كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهوالذى ظَهربِكلّ شيىءٍ
“Bagaimana mungkin bisa dibayangkan,
kalau sesuatu bisa menjadi hijab atas-Nya, sedangkan Allah yang menampakkan segala
seuatu.”
“Diantara yang menunjukkan adanya kekuasaan Allah
yang luar biasa, ialah dapat menghijab engkau daripada melihat kepada Nya
dengan hijab yang tidak ada wujudnya (yakni bayangan hijab) di sisi Allah”.
Allah menciptakan berbagai macam
yang indah-indah, panorama yang indah2. Rupa yang indah-indah. Maka Allah
menciptakan mata untuk menangkap gambaran warna yang indah, bentuk yang
indah-indah. Ada gambaran, ada mata, tak akan bisa dilihat jika tanpa adanya
cahaya. Maka Allah menciptakan cahaya.
Begitu pula diciptakannya bunyi untuk
didengar, diciptakannya lidah untuk merasa, sehingga bisa merasakan nikmatnya
kopi, nikmatnya segala sesuatu. Alam semesta diciptakan, dan segala sarana
untuk menikmati kenikmatan diciptakan oleh Allah. Tapi kita terkadang terlena
dengan segala kenikmatan-kenikmatan yang diberikan Allah. Yang membuat sate
yang enak apakah pak Bejo atau yang menciptakan kambing (yang menciptakan kambing adalah Allah SWT)? Apakah yang membuat
kopi yang enak adalah sebab enaknya kopi? Ataukah yang menciptakan tumbuhan kopi itu sendiri (Allah SWT)?
Manusia biasanya maunya berfikir
terputus, yaitu pemikiran yang tidak sampai pada Sang Pencipta. Masih hanya
sampai pada pembuat sate, pembuat jus, pembuat nasi padang, tidak sampai pada
Siapa yang menciptakan buah-buahan untuk pembuatan jus, Siapa yang menciptakan
kambing untuk bahan sate, dll. Kalau penghadiran akal tidak sampai pada
Pencipta, maka ia termasuk dalam Summum Bukmun Umyun.
Harusnya, semakin tinggi ilmu
para ahli ilmu, sudah seharusnya menjadi lebih dekat dengan Allah. Semakin
mengagungkan Allah, semakin bertasbih pada Allah. Tapi pada kenyataannya, banyak
yang semakin berilmu, semakin sombong. Karena pemikirannya terputus, terhijab
pemikirannya dari Allah SWT.
Allah kok bisa terhijab sesuatu
padahal Allah Maha menciptakan sesuatu?
Maka, setiap kita mendengar,
melihat, merasakan sesuatu, kita kembalikan semuanya pada Allah.
Banyak dari jin dan manusia yang
matanya tidak dipakai untuk melihat, telinganya mendengar tapi tak mendengar,
dll.
Banyak yang ingin S2, S3,, bukan
untuk mendekatkan diri kepada Allah, tapi semata2 hanya mengejar keduniaan.
Sehingga ketika ia mendapatkan 1 gunung emas, ia akan mengejar gunung emas
ke-2, ke-3, dst.
Ibnu Athoillah menjelaskan kepada
kita bahwasannya apa sih yang menghijabi kita dan harus kita singkirkan? Mari
kita renungkan:
1.
1. Orang-orang yang
terhijab karena dosa. Dosa yang ia lakukan seperti besi yang teyengen. Kalau
kita tidak segera hapus, maka hati kita akan semakin tertutup dan berkarat oleh
dosa-dosa. Naudzubillah. Langkah penanganannya harus taubat, harus
pembersihan dari segala kemaksiatan dzahir dan bathin kita. Contoh: mata kita
yang masih sering melihat tontonan-tontonan yang tidak baik. Mulut yang masih
suka ghibah. Telinga yang masih sering mendengarkan gosip tidak penting, dll.
2.
2. Orang terhijab
karena akhlaq yang kurang baik. Berhijab ada sumbatan ditelinganya, ada tutup di matanya, karena
ada kesombongan. Orang yang sombong tidak akan mendapat hidayah dan rahmat
Allah, bahkan tidak mendapat surganya Allah. Orang-orang yang sombong adalah
orang-orang yang dibenci Allah SWT.
3.
3. Orang yang
terhijab karena kedengkian terhadap orang lain. Seharusnya, jika orang lain
bahagia, kita ikut bahagia, jika orang lain sedih, maka kita ikut sedih. Sudah
selayaknya untuk saling mencintai dan menyayangi antar manusia.
4. 4. Orang terhijab
karena keserakahan. Nafsu kita tidak akan pernah kenyang, tak akan pernah puas.
Kalau kita memperturuti hawa nafsu dalam membaca Al-Qur’an bukan untuk mencari
keridhoan Allah, maka kita tidak akan dpat hidayah, malah dapat laknat. Astaghfirullah.
5.
5. Orang terhijab
karena Ghoflah atau lalai. Banyak lalai kepada Allah, lupa kepadaNya.
Maka perbanyak dzikir kepada Allah, perbanyak tasbih, tahmid, dll. Maka dzikir2
yang kita ungkap ini akan diterima oleh hati, sehingga hati menjadi terang.
Menghadirkan Allah adalah tugas kita untuk menghidupkan hati kita (Muhadloroh).
Contoh: Seharusnya, Ketika kita makan ada perasaan “Masha Allah, nasi ini Allah yang hadirkan
melalui petani yang masha Allah diberi kekuatan oleh Allah untuk menanam.
Kemudian digerakkannya manusia2 untuk bertani cabe, bertani bumbu2an. Masha
Allah. Jika Allah sudah berbicara seperti itu, tidak ada yang bisa menahan.
Setiap apa yang kita lakukan, hadirkan Allah.
Ini semua proses. Proses seumur
hidup. Kita belajar, kita belajar, meskipun kita belum pernah melihat surga,
belum pernah melihat neraka, dll. Suatu saat, jika kita selalu menghadirkan
Allah, maka Allah akan membuka hijab dari kita sedikit demi sedikit, dll,
hingga sampai pada Ainul Yaqiin.
Ketika kita bisa sukses, kaya,
siapa yang membuat kita kaya? Allahu Ahad.
Semakin kita tahu, maka kita
harus semakin tambah takut pada Allah, tambah tawadhu’, tambah taat pada Allah.
Semakin dekat pada Allah, semakin tunduk.
Setiap apa pun ilmu yang ada di
dunia ini kita berfikirnya sampai Allah SWT, maka Allah akan menghantarkan kita
pada terbukanya hidap dari Summum bukmun umyun fahum laa yarji’uun”.
Kalau alam dzahir, kita melihat
pakai mata dzhair, kalau perkara bathin, kita melihat pakai basyirah (mata
hati).
Allah SWT lebih deket dari kita,
lebih dekat dari urat nadi kita.
Written by: Fathma Zahara Sholeha

Komentar
Posting Komentar